05 Sep

Waktu Itu Hingga Kini

Menuruni lembah di daerah keinsanan
Mendaki gunung tapa ke puncak awan
Bibit sinar seri luas pandangan
Disulam kicau unggas susur berterbangan

Lambaian si hitam diterpa bayu
Hingar gempita susup sembunyi
Sedetik waktu langkah berlalu
Tinta tercatat genggam makrifat

Awan mendung terlakar suram
Bagai mengerti luka di hati
Bersama angin terkapai harapan
Gelora menggulung pantai menanti

Bisa meresap menyaluri ruang
Tanpa penghalang menuju pulang
Lembaran putih memeluk jasad
Tertutup kamus tinggal kenangan

Bookmark Artikel Ini:These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • blinkbits
  • blogmarks
  • co.mments
  • BlinkList
  • connotea
  • del.icio.us
  • De.lirio.us
  • digg
  • Shadows
  • RawSugar
  • NewsVine
  • Reddit
  • scuttle
  • feedmelinks
  • Furl
  • LinkaGoGo
  • Ma.gnolia
  • Smarking

3 Responses to “Waktu Itu Hingga Kini”

  1. mrozaidi Says:

    Dua Tiga Juadah Berbuka
    Mana Nak Sama Hari-Hari
    Dua Tiga Sudah Berduka
    Kena Posa Sebulan Berhari-Hari.

  2. Kerasma Says:

    Juadah berbuka masih ada
    Waktu bersahur tak lalu makan
    Suka dan duka lumrah biasa
    Itulah nama sebuah kehidupan

    :)

  3. Adila Says:

    Beli juadah jangan melebihi
    Cukup sekadar keperluan diri
    Ujian Allah tak Akan berhenti
    Sampai dijemput di sana menanti

Leave a Reply